Tidak ada gunanya saya pergi ke dokter
hanya akan menelurkan klaim bahwa saya terjangkit kangker,
amnesia atau apalah itu namanya
yang jelas hasil akhirnya
adalah kertas resep dengan barisan angkaangka
sepanjang sungai Arizona.

Ataupun kalau saya pergi ke seorang psikolog
rasanya malah membuat diri bertambah goblok
saya bukanlah skeptikus
apalagi politikus
saya tak pernah mengalami neuralgi
hanya tersihir oleh puisi
jangan pernah menyebut saya nervous
saya ini pengagum kue sus.

Yang saya butuhkan saat ini adalah
ranjang yang bisa tenang
tanpa gelombang
apalagi gendering perang.
Duaempat 01 04

Purnomo Setiawan

Di warung bakso. Katakata ternyata lebih suka chaos ketimbang saos. Akibatnya air liur yang sudah terbit terpaksa tenggelam dan terjepit. Pesta terlebih dahulu mati sebelum sempat berdiri. Dan puncak dari segalanya: katakata meninggalkanku sendiri mengunyah utopia.
Duatiga 01 04

Purnomo Setiawan

Kalaupun harus ke kamar mandi
bukan sekedar untuk buang penyakit
tetapi merenungi nasib, sampai dahi mengernyit.
Mengenang tikustikus yang bercericit
dalam rindu yang jatuh-bangkit-jatuh-bangkit

Kini aku jauh dari kamar mandi
di tempat yang aku sendiri tidak mengerti
apakah itu masa lalu, masa depan, atau masa kini.
Seingatku ini pesisir lautan waktu
tempat aku terdampar dulu
bersama runerune sajakku
yang pernah kutata satu persatu

Setelah sekian lama
katakata bersporadis ria
mengejekku yang tenggelam dalam badai stagnasi
hingga terpaksa aku pura-pura mati.
sampai suatu hari:
kulihat seorang muchacha menembak rembulan dengan senyumnya.
Duatiga 01 04

Purnomo Setiawan

Hujan ingkar janji
hujan tak jadi datang malam ini
menemaniku memetik katakata
sekitar ranjang, pasarbesar,
dan bar tua: tempat malam menambal hitamnya

ada tugas dadakan
menggerus airmata di sekitar ranah pekuburan

hujan mencoba beralasan
duadua 01 04

Purnomo Setiawan

Di meja belajarku yang lama
ada seorang penjual celana
agak berbahaya, karena suka mengada-ada dan memakan celana
ia juga sangat sembarangan
bahkan terkesan serampangan
celana dipakainya di kepala
dan pahanya dibiarkan terbuka
membuat malam bersemu merah
dan bulan muntah di atasnya

Suatu hari ia pamit pergi
katanya baru dapat mangsa baru lagi
entah kenapa aku jadi teringat kamu
sang pemberani yang lugu lagi pemalu
hati-hati terhadapnya
jangan sampai memakai celana bolong tengahnya
duadua 01 04

Purnomo Setiawan

Di ‘tepi malam ranjang telah menjelma samudra yang memintanya untuk terus berenang. Berhenti berenang akan terpanggang. Ia terus berenang. Menningalkan waktu dan kenangan jauh di belakang. Melewati batas tapalsenja. Melewati batas alam sadarnya. Terdampar di pulau tanpa nama. Sampai dimana saya? Ia bertanya. Masih di ranjang sayang, sekerang bergegaslah hari sudah menetas. Ranjang menjawabnya mesra.
Satusatu 01 04

Purnomo Setiawan

Katakata sudah berbaris rapat, padat, ketat di sekeliling istana, mengelilingi sang puteri yang duduk tenang di atas ranjang. Di atas ranjang akulah sang ratu.jangan sekali-kali coba mengganggu.

Benar-benar tak ada celah untuk menyelinap. Mata katakata sangat tajam. Menembus hati paling dalam. KRAK. Dahan pijakanku patah. Sekompi katakata mengepungku sudah. Gantung dia, sang puteri memberi titah. Sebutkan permintaan terakhirmu, diajukannya pertanyaan. Saya tidak punya permintaan, hanya mau mengatakan: haruskah kubuka celanaku untuk membuktikan aku cinta kamu.

Rembulan beranjak menuruni tangga malam.
Sepotong celana berkibar di bianglala
Bukan bendera peperangan. Bukan lambang menyerah
Tapi lambang perdamaian
Nolapan 01 04

Purnomo Setiawan

Rutinitas pagi harinya adalah mengaca. Kalau sudah mengaca ia bisa berjam-jam lamanya. Mulai dari sekedar rapikan jenggot, menyisir bulu mata, tambal belang-bolong, sampai merenovasi topeng kalau sudah sangat dedel-duel. Kaca tak pernah berbohong, begitu selalu falsafahnya. Alangkah terkejutnya ia tatkala suatu pagi tak ditemukannya selembar bayangan dalam kaca. Seakan-akan keberadaannya tak diakui. Seakan-akan ia selembar plastik transparan, sehingga foto monyet di dinding di belakangnya kelihatan. Kamu kemanakan banyanganku, ia menghardik kaca. Sesaat ia tersadar, ia bukan lagi manusia. Mahluk tanpa bayangngan. Langsung saja ia teringan dongeng neneknya: setan itu tak punya bayangan… Hi, jadi ngeri…
Kaca tak pernah berbohong…
Noltujuh 01 04

Purnomo Setiawan

Sebenarnya celana perlu juga dibuatkan selamatan. Bukan selalu digeletakkan di bak cucian. Tapi di alatar agung dalam upacara sakral pensucian. Dimandikan dengan bunga setaman, sambil kita bakar-bakar kemenyan. Untuk apa? Bukan untuk buang sial ataupun kebal bacokkan. Biar celana ngaak tambah binal dan nakal. Juga kita bisa ngobrol sama celana dengan santai. Lepas dari belenggu birokrasi ataupun undang-undang kalau kita sedang ngantor atau dinas. Kita bias saling curhat. Kenapa celana semakin memusuhi pantat. Mengapa juga sampai minta naik pangkat. Meski kita harus akui. Tanpa celana kita belum disebut manusia.
Nolenam 01 04

Purnomo Setiawan

Titip salam buat bantalguling di rumah, sudah sampai di mana saja kembaranya. Buat kacamata di meja makan, berapa buku yang tertelan. Juga buat tikustikus di atap. Saya kangen dengan cericitnya. Kalau bisa paketkan dong. Buat menemani sang topeng kalau saya sedang sembahyang.
Nolima 01 04

Purnomo Setiawan

Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda