Tampilkan postingan dengan label Purnomo Setiawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purnomo Setiawan. Tampilkan semua postingan

Purnomo Setiawan

Waktu kau pulang
Senja menunggumu di tengah ranjang
Rambutnya yang pirang
Matanya yang nyalang
Membuatmu ingin segera meradang menerjang
Walau kau bukanlah binatang jalang

Tetapi senja terlalu sayang kalau hanya dipandang
Sebisa mungkin kau ingin menghirupnya sampai kenyang

Duaempat 01 04

Di sebuah sudut mushola, senja melepas baju dinasnya. Digelarnya sajadah, dititipkan warna dan luka pada siluet pohon-pohon kelapa. Januari pasti datang, mengguyur do’a di ladang-ladang. Hujan sejenak numpang mandi, lalu bergegas menemani santri-santri mengaji. Selembar sarung, sebut saja: sepenggal kenangan, berkibar-kibar di malam purnama yang bercadar. Di bawahnya, seorang penyair: tempat duka dan lara mandi dan bersemedi, tenggelam dalam seember kopi merayu kata-kata yang ngambek minta cerai.
tak ada mimpi malam ini. samudra malam diarungi dengan berlembar-lembar simphoni ayat-ayat suci.

Hai penyair, masihkah tasbih itu selalu berputar teratur di tanganmu?
Ataukah sudah jadi pajangan pelengkap seragammu?
Masih suka mendengarkan dzikir-dzikir jangkrik
Tawa pecah menabrak dinding-dinding bilik
Sambil menunggu gurihnya lauk dan matangnya sayur
teman kita di waktu sahur

Dualapan 0805

Purnomo Setiawan

Tubuhnya kurus kering
rusuknya piano yang kalau malam selalu berdenting
tapi seenaknya saja ia telanjang dada menghadap barat
bagaikan seorang juru selamat
yang bisa menghalau kiamat.

Sebenarnya bukan karena perkasa ia tak pakai baju
tapi nasib memaksanya untuk begitu
sudah tak ada baju lagi
yang bisa digadaikan untuk ditukar nasi

Ia hanya orang miskin
yang untuk makan tiga hari ke depan
rasanya tak mungkin.
Duaempat 01 04

Purnomo Setiawan

Sepotong senja dalam puisi
senja yang wajahnya merah bersemu ungu
potret sang maut yang tegas tapi pemalu
sepintas lalu,
lewat arak-arakan kata mengetuk jendela rumahku
lalu ngacir ketika kubuka
sambil tertawa-tawa dan :
ketipu! Kacian deh lu…

Sepotong senja dalam puisi.
puisi yang kutilis sendiri
dari dalam lemari
ingin hati melanjutkannya
apa daya
senja lebih dulu terpejam
meninggalkan lanskap lagit yang kelam
bersambung…
Duaempat 01 04

Purnomo Setiawan

Ia merasa sendiri
di tempat yang ramai ini
gemuruh lagu bintang kecil
malah membuatnya merasa terkucil
terpencil di sudut kelas yang kecil
ia juga ingin bertandang ke rumah bintang
mungkin di sana tempat kucingnya yang hilang.
Duaempat 01 04

Purnomo Setiawan

Tak pernah terpikirkan sebelumnya
Untuk benar-benar menggoreng senja
Dalam api cinta di kamar hotel di lantai duatiga
Sehingga senja jadi linglung
Yang seharusnya tenggelam
Eh, malah terbit lagi
Itulah hebatnya cinta
Malam dibuatnya penuh gairah dan keringat
Duaempat 01 04

Purnomo Setiawan

Sejak saat itu aku tak berani lagi
Menghidangkan malam bersama secangkir kopi
Karena malam bukanlah kopi
Pahitnya ‘tlah menjelma mimpimimpi
Yang selalu mengepungku dari balik kamar mandi
Duaempat 01 04

Purnomo Setiawan

Kenangan bisa saja hilang dimakan lupa
Tapi satu peristiwa yang tak bisa disentuh baik lupa
Maupun laju kereta masa
Adalah ketika senja menempelkan bibirbasahnya
pada tengkukmu yang jenjang
dan dalam telanjang kau merasa melayang-layang
sampai kakimu terantuk karang
kau jatuh bergelimpang
dan aku senang
habisnya hari sudah petang
kau kupanggil-panggil, tapi tak segera datang.
Duaempat 01 04

Purnomo Setiawan

Tidak ada gunanya saya pergi ke dokter
hanya akan menelurkan klaim bahwa saya terjangkit kangker,
amnesia atau apalah itu namanya
yang jelas hasil akhirnya
adalah kertas resep dengan barisan angkaangka
sepanjang sungai Arizona.

Ataupun kalau saya pergi ke seorang psikolog
rasanya malah membuat diri bertambah goblok
saya bukanlah skeptikus
apalagi politikus
saya tak pernah mengalami neuralgi
hanya tersihir oleh puisi
jangan pernah menyebut saya nervous
saya ini pengagum kue sus.

Yang saya butuhkan saat ini adalah
ranjang yang bisa tenang
tanpa gelombang
apalagi gendering perang.
Duaempat 01 04

Purnomo Setiawan

Di warung bakso. Katakata ternyata lebih suka chaos ketimbang saos. Akibatnya air liur yang sudah terbit terpaksa tenggelam dan terjepit. Pesta terlebih dahulu mati sebelum sempat berdiri. Dan puncak dari segalanya: katakata meninggalkanku sendiri mengunyah utopia.
Duatiga 01 04

Purnomo Setiawan

Kalaupun harus ke kamar mandi
bukan sekedar untuk buang penyakit
tetapi merenungi nasib, sampai dahi mengernyit.
Mengenang tikustikus yang bercericit
dalam rindu yang jatuh-bangkit-jatuh-bangkit

Kini aku jauh dari kamar mandi
di tempat yang aku sendiri tidak mengerti
apakah itu masa lalu, masa depan, atau masa kini.
Seingatku ini pesisir lautan waktu
tempat aku terdampar dulu
bersama runerune sajakku
yang pernah kutata satu persatu

Setelah sekian lama
katakata bersporadis ria
mengejekku yang tenggelam dalam badai stagnasi
hingga terpaksa aku pura-pura mati.
sampai suatu hari:
kulihat seorang muchacha menembak rembulan dengan senyumnya.
Duatiga 01 04

Purnomo Setiawan

Hujan ingkar janji
hujan tak jadi datang malam ini
menemaniku memetik katakata
sekitar ranjang, pasarbesar,
dan bar tua: tempat malam menambal hitamnya

ada tugas dadakan
menggerus airmata di sekitar ranah pekuburan

hujan mencoba beralasan
duadua 01 04

Purnomo Setiawan

Di meja belajarku yang lama
ada seorang penjual celana
agak berbahaya, karena suka mengada-ada dan memakan celana
ia juga sangat sembarangan
bahkan terkesan serampangan
celana dipakainya di kepala
dan pahanya dibiarkan terbuka
membuat malam bersemu merah
dan bulan muntah di atasnya

Suatu hari ia pamit pergi
katanya baru dapat mangsa baru lagi
entah kenapa aku jadi teringat kamu
sang pemberani yang lugu lagi pemalu
hati-hati terhadapnya
jangan sampai memakai celana bolong tengahnya
duadua 01 04

Purnomo Setiawan

Di ‘tepi malam ranjang telah menjelma samudra yang memintanya untuk terus berenang. Berhenti berenang akan terpanggang. Ia terus berenang. Menningalkan waktu dan kenangan jauh di belakang. Melewati batas tapalsenja. Melewati batas alam sadarnya. Terdampar di pulau tanpa nama. Sampai dimana saya? Ia bertanya. Masih di ranjang sayang, sekerang bergegaslah hari sudah menetas. Ranjang menjawabnya mesra.
Satusatu 01 04

Purnomo Setiawan

Katakata sudah berbaris rapat, padat, ketat di sekeliling istana, mengelilingi sang puteri yang duduk tenang di atas ranjang. Di atas ranjang akulah sang ratu.jangan sekali-kali coba mengganggu.

Benar-benar tak ada celah untuk menyelinap. Mata katakata sangat tajam. Menembus hati paling dalam. KRAK. Dahan pijakanku patah. Sekompi katakata mengepungku sudah. Gantung dia, sang puteri memberi titah. Sebutkan permintaan terakhirmu, diajukannya pertanyaan. Saya tidak punya permintaan, hanya mau mengatakan: haruskah kubuka celanaku untuk membuktikan aku cinta kamu.

Rembulan beranjak menuruni tangga malam.
Sepotong celana berkibar di bianglala
Bukan bendera peperangan. Bukan lambang menyerah
Tapi lambang perdamaian
Nolapan 01 04

Purnomo Setiawan

Rutinitas pagi harinya adalah mengaca. Kalau sudah mengaca ia bisa berjam-jam lamanya. Mulai dari sekedar rapikan jenggot, menyisir bulu mata, tambal belang-bolong, sampai merenovasi topeng kalau sudah sangat dedel-duel. Kaca tak pernah berbohong, begitu selalu falsafahnya. Alangkah terkejutnya ia tatkala suatu pagi tak ditemukannya selembar bayangan dalam kaca. Seakan-akan keberadaannya tak diakui. Seakan-akan ia selembar plastik transparan, sehingga foto monyet di dinding di belakangnya kelihatan. Kamu kemanakan banyanganku, ia menghardik kaca. Sesaat ia tersadar, ia bukan lagi manusia. Mahluk tanpa bayangngan. Langsung saja ia teringan dongeng neneknya: setan itu tak punya bayangan… Hi, jadi ngeri…
Kaca tak pernah berbohong…
Noltujuh 01 04

Purnomo Setiawan

Sebenarnya celana perlu juga dibuatkan selamatan. Bukan selalu digeletakkan di bak cucian. Tapi di alatar agung dalam upacara sakral pensucian. Dimandikan dengan bunga setaman, sambil kita bakar-bakar kemenyan. Untuk apa? Bukan untuk buang sial ataupun kebal bacokkan. Biar celana ngaak tambah binal dan nakal. Juga kita bisa ngobrol sama celana dengan santai. Lepas dari belenggu birokrasi ataupun undang-undang kalau kita sedang ngantor atau dinas. Kita bias saling curhat. Kenapa celana semakin memusuhi pantat. Mengapa juga sampai minta naik pangkat. Meski kita harus akui. Tanpa celana kita belum disebut manusia.
Nolenam 01 04

Purnomo Setiawan

Titip salam buat bantalguling di rumah, sudah sampai di mana saja kembaranya. Buat kacamata di meja makan, berapa buku yang tertelan. Juga buat tikustikus di atap. Saya kangen dengan cericitnya. Kalau bisa paketkan dong. Buat menemani sang topeng kalau saya sedang sembahyang.
Nolima 01 04

Purnomo Setiawan

Di sebuah berita duka. Di himpitan iklan-iklan. Di suatu sudut Koran malam. Berdiri penggalan kalimat di atas puing puing paragraf yang telah cerai-berai dan koyak-moyak di kerikiti anjinganjing waktu.

…kutunggu kau di kamar mandi
Kutunggu bersama resah, gelisah, sedih dan dukamu…

Potongan kalimat berjalan ke arah barat. Melipat senja dan memasukkan kedalam sakunya. Sudah malam. Waktunya tidur.
Nolempat 01 04

Purnomo Setiawan

Seekor kalimat terjatuh dari pohon kelapa
Salam pramuka
Walau hanya sekelebat
Tak hanya mengeja darat
Tapi juga laut dan selat.
Noltiga 01 04

Purnomo Setiawan

Postingan Lama Beranda